Harga Pokok Penjualan (HPP)

Atas permintaan seorang teman sesama pelaku usaha di Kota Batu, sebut saja Mbah Yoyo (:P), beliau meminta kami membuatkan form untuk studi kelayakan bisnis yang sederhana.

Tapi, karena kami belum bisa membuat studi kelayakan bisnis yang sederhana itu bagaimana, jadi sementara dibuatkan dulu form untuk menghitung harga pokok penjualan (HPP) suatu usaha. Ini bukan apologie, tp cuma excuse…. ^^

Tulisan dibawah ini akan terbagi menjadi beberapa bagian sbb :
1. Definisi Harga Pokok Penjualan (HPP)
2. Contoh Kasus Menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP)
3. Contoh Form untuk menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP)

Sekilas tentang Harga Pokok Penjualan (HPP)

Harga pokok penjualan atau HPP adalah istilah yang digunakan pada akuntansi keuangan dan pajak untuk menggambarkan biaya langsung yang timbul dari barang yang diproduksi dan dijual dalam kegiatan bisnis. Ini termasuk biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead dan tidak termasuk periode (operasi) biaya seperti penjualan, iklan atau riset dan pengembangan. (Sumber: Wikipedia)

Bingung definisi diatas? sama saya juga bingung ……. :/ bagaimana jika sementara definisi sederhananya begini :

HPP adalah suatu nilai agar kita tau penjualan kita rugi atau untung .

Kalau rugi nanti kita evaluasi supaya tidak rugi atau dihentikan sekalian, sedangkan kalau untung berarti bisa kita teruskan + evaluasi bagaimana caranya biar bisa lebih banyak untungnya 😉

Rumus dasar HPP :

HPP = Barang tersedia untuk dijual – Persediaan Akhir

Keterangan :
Barang tersedia untuk dijual = Persediaan Barang dagangan awal + Pembelian bersih
Pembelian bersih = (Pembelian + biaya angkut pembelian ) – (Retur Pembelian+ Potongan Pembelian)

Contoh kasus menghitung HPP

Kondisi awalnya :
Persediaan barang dagangan awal = Rp 100.000,-
Pembelian barang dagangan tambahan dikurangi potongan harga = Rp 400.000,-
=> Barang tersedia untuk dijual = Rp 500.000,-

Kemudian ketika sudah melakukan penjualan, dan kita hitung sisa barangnya :
=> Sisa Persediaan akhir = Rp 200.000,-

Sehingga kita peroleh:
=> Harga pokok penjualan = 500.000 – 200.000 = Rp. 300.000,-

Kalau pemasukan yang kita terima lebih besar daripada Rp. 300.000,- berarti kita untung, kalau yang kita terima lebih kecil daripada Rp. 300.000,- berarti kita rugi, walaupun sebenarnya tidak seperti itu juga, karena kita belum menghitung biaya iklan dll (lihat definisi menurut wikipedia diatas).

Salah satu tujuannya kita menghitung HPP adalah, kita bisa menentukan harga jual yang pas untuk dibebankan kepada konsumen, supaya kita bisa mendapatkan untung sesuai target kita.

Contoh form menghitung HPP

Untuk yang ingin menghitung HPP produknya sendiri, bisa coba menggunakan contoh form dibawah ini, silahkan diisi dengan nilai rupiah kecuali discount :

 

Penutup Cara Menghitung HPP

Demikian sedikit penjelasan tentang harga pokok penjualan (HPP) dan contoh form untuk menghitung HPP secara sederhana.

Perlu diketahui bahwa cara menghitung HPP ini bisa digunakan untuk usaha manufaktur (yang memproduksi barang) , usaha perdagangan maupun usaha dibidang jasa, hanya parameternya saja yang diganti, prinsipnya tetap sama.

Jika ada yang belum jelas, atau ada kekeliruan dari tulisan diatas, atau tambahan dlsbnya monggo komen dibawah.

Sumber :

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Harga_pokok_penjualan
  2. http://caraharian.com/cara-menghitung-hpp.html
  3. https://sleekr.co/blog/harga-pokok-penjualan-dan-harga-jual-apakah-sama/
work as freelancer, web developer, tourism support, organizer, etc - i’m a humanize human, a son, a father, a husband, who love coffee and cigarette, lazy and moody, entrepreneur, very easy to sleep, internet addict, bad designer, humorious, playing guitar, can’t singing & cooking, thin body, brown skin, smily, travelling & hiking, art & culture related, etc………

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *